Sunday, November 30, 2014

singkong, ketela pohon



SINGKONG 
SINGKONGKU SAYANG, SINGKONGKU MALANG


Sampai dengan usia sepuluh tahunan, makanan utama saya di kampung dulu adalah singkong. Singkong dibuat seperti nasi. Namanya nasi singkong. Orang kampung saya menyebutnya “sega budin”. “Sega” itu “nasi”, sedangkan “budin” itu “singkong”.  Sayurnya juga daun singkong. Nasi singkong lauknya sayur daun singkong. Kalau sekarang di rantau orang, jika saya kangen singkong dan daun singkong, saya harus membelinya. Rumah Makan Padang ternyata menyajikan sayur daun singkong. Ya Restoran Padang mengangkat citra daun singkong sebagai sayur yang bergengsi. Di kampung saya dulu seluruh kebun dipenuhi tanaman singkong. Sepanjang mata memandang tanaman singkong menghijau, karena memang singkong adalah makanan pokok di kampung saya.
Saya terkejut bukan kepalang, sewaktu mendapat kiriman berita di media pertemanan (facebook) berita tentang impor singkong yang dilakukan Pemerintah Indonesia. Berita itu tentu saya segera baca dan saya edit untuk saya muat di blog saya. Coba and baca di bawah ini.
(sumber: http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/07/11/m6yi11-upspemerintah-impor-singkong-dari-vietnam-dan-cina)

Pada bulan Maret, April, dan Mei 2012, pemerintah Indonesia mendatangkan singkong dari Republik Vietnam sebanyak 1.342 ton. Singkong sebanyak itu bukan barang gratis tetapi dibeli dengan uang sebanyak 340 ribu dolar AS. Berita ini pernah dimuat Republika.Co.Id. Sumber berita ini disampaikan oleh anggota Komisi IV DPR RI, Viva Yoga Mauladi, Jakarta, Selasa.

Ia menambahkan, pada saat bersamaan, pemerintah juga mendatangkan alias mengimpor singkong dari negeri Tirai Bambu, Cina sebanyak 5.057 ton yang setara dengan 1,3 juta dolar AS. Demikian pernyataan politisi Partai Amanat Nasional (PAN).


Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Martin Hutabarat, yang jua anggota DPR RI, menyayangkan kebijakan impor singkong tersebut. "Impor singkong sama dengan membunuh petani perlahan demi perlahan," ujar Martin.

Ia menyatakan bahwa wilayah Indonesia sangat luas dan tidak kekurangan singkong sama sekali. "Tidak sulit menggerakkan petani untuk menanam singkong," sebut politisi dari Partai Gerindra itu.

Ia juga lebih lanjut menyebutkan bahwa setiap tahun pemerintah Indonesia menghabiskan dana sekitar Rp125 triliun untuk impor kebutuhan pangan.

"Kalau dana itu digunakan dan dibagikan kepada petani, maka dana Rp 125 triliun itu akan sangat berguna sekali sekaligus bisa menyejahterakan petani kita," ujar Martin. Oh singkongku sayang, singkongku malang.

atau kalau anda ingin tahu lebih lanjut, cobalah klik website di bawah ini. 



Berita Impor singkong:
berita impor singkong:
berita impor singkong:
SINGKONG 
SINGKONGKU SAYANG, SINGKONGKU MALANG 

No comments:

Post a Comment